Bukan Sekadar Nama! Ini Sejarah Singkat nan Epik di Balik Piala Thomas & Uber
Setiap kali kejuaraan bulu tangkis beregu dunia digelar, jutaan mata di Indonesia selalu tertuju pada layar kaca. Sebagai negara dengan tradisi bulu tangkis yang sangat kental, kejuaraan ini selalu berhasil membakar semangat nasionalisme kita.
Di tahun 2026 yang berlangsung di Horsens, Denmark, tensi pertandingan kembali memuncak. Namun, di balik serunya aksi smash dan rally panjang di lapangan, pernahkah kamu bertanya-tanya: siapa sebenarnya sosok "Thomas" dan "Uber" yang namanya diabadikan menjadi trofi paling prestisius sejagat ini?
Ternyata, sejarah di balik lahirnya kedua turnamen ini sangatlah epik dan penuh perjuangan! Yuk, kita flashback sejenak menyusuri lorong waktu sejarah bulu tangkis dunia.
Siapa Sebenarnya Sir George Alan Thomas?
Piala Thomas untuk beregu putra tidak akan pernah ada tanpa visi brilian dari seorang legenda bulu tangkis asal Inggris, Sir George Alan Thomas. Beliau bukanlah orang sembarangan. Sir George adalah penguasa lapangan di masanya yang sukses memborong 21 gelar Kejuaraan All England dan merupakan Presiden pertama Federasi Bulu Tangkis Internasional (IBF, kini BWF) yang didirikan pada tahun 1934.
Pada tahun 1939, Sir George mengusulkan sebuah ide revolusioner: ia ingin menciptakan turnamen beregu antarnegara untuk bulu tangkis, yang terinspirasi dari kebesaran Davis Cup di olahraga tenis dan World Cup di sepak bola. Saking seriusnya, ia merogoh kocek pribadinya untuk menyumbangkan sebuah trofi perak berlapis emas yang sangat indah.
Baca juga: Jadwal Krusial Thomas Cup 2026 Hari Ini: Nonton Aksi Tim Garuda Tanpa Buffering di Sini
Sayangnya, mimpi besar ini harus tertunda akibat pecahnya Perang Dunia II. Turnamen perdana ini baru bisa direalisasikan pada musim kompetisi 1948-1949 di Preston, Inggris. Di edisi bersejarah itu, tim Malaya (sekarang Malaysia) keluar sebagai juara pertama setelah mengandaskan perlawanan Denmark.
Lahirnya Piala Uber Berkat Ide H.S. Betty Uber
Melihat kesuksesan luar biasa dari Piala Thomas, para srikandi bulu tangkis tentu tidak mau ketinggalan. Pada tahun 1950, seorang pemain bulu tangkis wanita legendaris asal Inggris yang mendominasi era 1930-an hingga 1950-an, H.S. Betty Uber, mengajukan proposal untuk menggelar turnamen beregu wanita.
Sebagai bentuk penghormatan atas dedikasinya, trofi kejuaraan tersebut dinamakan Uber Cup. Turnamen perdana Piala Uber resmi digelar pada tahun 1956-1957 di Lancashire, Inggris. Menariknya, panggung awal turnamen putri ini tidak dikuasai oleh negara Asia, melainkan didominasi secara mutlak oleh tim putri Amerika Serikat yang berhasil mencetak hat-trick gelar juara secara beruntun pada tahun 1957, 1960, dan 1963.
Dulu Mainnya Sampai 9 Partai dan Digelar 3 Tahun Sekali!
Buat kamu yang terbiasa menonton format pertandingan saat ini, pasti bakal geleng-geleng kepala melihat aturan zaman dulu.
Sejak pertama kali bergulir pada tahun 1948 hingga 1982, Piala Thomas dan Uber digelar setiap tiga tahun sekali. Tidak hanya itu, pertandingannya sangat menguras fisik! Piala Thomas menggunakan format sembilan partai per laga yang harus diselesaikan dalam dua hari berturut-turut. Sementara itu, Piala Uber dimainkan dengan format tujuh partai per laga.
Baca juga: Berapa Maksimal HP yang Bisa Konek ke Satu Wi-Fi? Kenali Tanda Router Kamu Udah "Minta Ampun"
Format yang sangat melelahkan ini akhirnya direvolusi besar-besaran oleh BWF pada tahun 1984. Sejak saat itu, frekuensi penyelenggaraan dipercepat menjadi dua tahun sekali. Piala Thomas dan Uber juga mulai dihelat secara bersamaan di satu lokasi yang sama, dan format pertandingannya disederhanakan menjadi lima partai (tiga tunggal dan dua ganda) seperti yang kita kenal sekarang.
Berbicara soal sejarah, kita patut membusungkan dada. Sejak era turnamen ini dimulai, Timnas Indonesia telah memahat rekor absolut sebagai negara tersukses dengan koleksi 14 gelar juara Piala Thomas!
Kawal Terus Sejarah Baru Timnas Tanpa Hambatan bareng ICONNET!
Turnamen Thomas dan Uber Cup tidak pernah gagal menyajikan pertandingan kelas dunia yang membuat jantung kita berdebar kencang. Mengingat pertandingannya disiarkan langsung dari jauh, cara terbaik untuk ikut menjadi saksi sejarah tentu saja melalui live streaming.
Tapi, awas! Euforia menonton aksi para pahlawan bulu tangkis kita bisa hancur berantakan kalau koneksi internet di rumah tiba-tiba putus, lag, atau terjebak loading berjam-jam (buffering) tepat saat poin-poin kritis.
Biar acara nonton bareng (nobar) bulu tangkis di rumah tetap aman terkendali, pastikan kamu sudah beralih menggunakan layanan fiber optic unggulan dari ICONNET!
Kenapa ICONNET bikin pengalaman streaming olahraga makin mantap?
Jaringan Ultra-Stabil: Infrastruktur 100% Fiber Optic menjamin siaran live streaming resolusi High Definition (HD) berjalan mulus tanpa patah-patah biarpun reli berlangsung sangat cepat.
True Unlimited Tanpa FUP: Bebas nonton puluhan partai pertandingan dari pagi sampai malam tanpa rasa was-was kecepatan internet bakal diturunkan di akhir bulan!
Ping Rendah: Bikin kamu nggak akan kena "spoiler" teriakan tetangga sebelah yang internetnya lebih cepat.
Sejarah baru sedang diukir oleh para atlet bulu tangkis kebanggaan kita. Yuk, cek ketersediaan ICONNET di areamu sekarang juga, siapkan kudapan favorit, dan mari dukung Skuad Garuda merengkuh kejayaan di Piala Thomas dan Uber!
Baca juga: Sering Salah Sambung! Kenali Beda Wi-Fi 2.4 GHz vs 5 GHz Biar Nggak Nge-Lag Pas Main Game